Skip to content

Selamat Datang Disitus Kami

*PADEPOKAN KERIS PUSAKA ALAM*
Menerima pesanan berbagai Jenis Keris Dan Pusaka (Asli Dan Berkualitas).

Untuk Informasi Lebih Lanjut Silahkan Hubungi Kami :

ABAH LUKMAN
(Telp / SMS ) : 085868025447
(Email) : mbah12@gmail.com

***Terima Kasih Atas Kunjungan Anda***

Benda Keris Pusaka DiMaharkan

2010 August 28
Posted by mbah12

- Semar Mesem

- Keris Kyai Penggarit

- Keris Kyai Suratman

- Keris Semar Bungkem

- Keris Kinjeng Tengis

- Keris Nogo Bondo

- Keris Pedut

- Keris Kinasih

- Tombak

- Keris Tilam Upeh Pamor adek ( Mahar : Rp 5.000.000,- )

- Keris Sempaner Pamor Udan Mas ( Mahar : Rp 10.000.000,- )

- Keris Sempono Bungkem ( Mahar : Rp 7.000.000,- )

- Keris Bethok Buddho ( Mahar : Rp 15.000.000,- )

*************************************************************************************

( SPECIAL ) :

- KERIS BETHOK BUDDHO BUTHO MAKARO ( Mahar : Rp 50.000.000,- )

- PEDANG RAJAH WAHYU AGUNG ( Mahar : Rp 35.000.000,- )

- KERIS SINGO BARONG-KINATAH EMAS,LUK 5 ( MAHAR : Rp 50.000.000,-)

- KERIS PAJAJARAN PAMOR OMBAK SAMUDRO ( MAHAR : Rp 32.000.000,-)

*************************************************************************************

Untuk Informasi Lebih Lanjut Silahkan Hubungi Kami :

ABAH LUKMAN ( Mbah Rollas )

(Telp / SMS ) : 085868025447
(Email) : mbah12@gmail.com

Benda Pusaka Dalam Pandangan Syari’at

2010 August 28
Posted by mbah12

” Tiada daya dan kekuatan apapun baik lahir maupun bathin melainkan atas titah dan kehendak ALLOH Sang Maha Agung “.

Adapun semua benda ataupun benda pusaka baik berupa tongkat, keris, tombak dll pada dasarnya tidaklah memiliki suatu kekuatan apapun, karena sumber segala kekuatan itu dari Allah semata. Jadi tidaklah benar pendapat yang mengatakan bahwa benda pusaka memiliki kekuatan atau berpengaruh terhadap sesuatu.
Adapun tongkat Nabi Musa yang bisa membelah lautan, memunculkan mata air dari batu pada dasarnya semua itu untuk menunjukkan kekuasaan Allah dan sebagai mu’jizat dari Allah untuk mengukuhkan kenabian Nabi Musa [1] , sebagaimana dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Jubair. Allah SWT mengkisahkan tentang Nabi Musa dengan tongkatnya di dalam Al-Qur’an Surat Al Baqarah ; 60 :
وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Artinya : “ dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya lalu Kami berfirman “ pukullah batu itu dengan tongkatmu” lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air, sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing), makan dan minumlah rizqi (yang diberikan) Allah. Dan janganlah kamu berkeliaran dimuka bumi dengan berbuat kerusakan” (QS al BAqarah ; 60)
Pada kisah Nabi Musa dengan tongkatnya, Allah tidak langsung mengeluarkan mata air dari batu padahal Allah mampu untuk melakukannya tapi Allah memerintahkan terlebih duhulu kepada Musa untuk memukulkan tongkatnya ke batu. Hal ini mengandung suatu hikmah yaitu ikhtiar yang lazim dilakukan manusia walaupun seorang nabi sekalipun. Perintah Allah kepada Nabi Musa adalah sebagai suatu pelajaran bagi Nabi Musa untuk berusaha walaupun dengan usaha yang mudah. [2]
Hukum menggunakan atau menyimpan benda pusaka sebagai berikut :

1.
HARAM dan berakibat KUFUR, jika meyakini bahwa benda pusaka itu memiliki kekuatan sendiri yang berpengaruh terhadap sesuatu yang lain bukan dari Allah.
2.
HARAM tapi tidak kufur, pelakunya dihukumi FASIQ, jika meyakini benda pusaka itu memiliki kekuatan dan berpengaruh terhadap benda lain tapi masih meyakini semuanya dari Allah.
3.
BOLEH, jika meyakini segala kekuatan hakikatnya dari Allah semata.[3]

Inti dari hukum benda pusaka didasarkan pada keyakinan kita dalam menilai benda tersebut.
Sedangkan bagi orang yang meyakini adanya jin didalam benda pusaka tersebut, kemudian meminta bantuan jin yang ada didalamnya ( استخدام الجان ) dengan terlebih dahulu melakukan ritual seperti pembakaran dupa dan pembacaan mantra, maka bisa berakibat kekufuran jika meyakini dengan ritual tersebut jin yang ada didalamnya bisa tunduk dan mau melakukan segala kehendaknya.

Wallohu A’lam…

Pamor Keris

2010 August 28
Posted by mbah12

” Ada banyak sekali jenis dari keris yang berpamor pemilih dan berpamor yang kurang baik, hal ini dikarenakan oleh berbagai macam faktor”

Sering kita mendengar cerita dimasyarakat tentang orang yang tidak cocok pada keris pusakanya, baik keris dari warisan, pemberian orang, mas kawin atau yang mendapatkan dengan cara-cara lainnya. Ada banyak sekali jenis dari keris yang berpamor pemilih dan berpamor yang kurang baik, hal ini dikarenakan oleh berbagai macam faktor diantaranya :
1. Saat Empu membabar / membuat pusaka konsentrasinya terganggu oleh sesuatu hal sehingga mantra yang seharusnya baik menjadi salah ucap atau tidak sesuai maka mengakibatkan keris tersebut mempunyai tuah yang kurang baik Contohnya : Pusaka Empu Gandring, sebelum keris selesai dibuat sang Empu dibunuh oleh Ken Arok dan mengucapkan kata – kata kutukan yang masuk ke keris tersebut, dan terbukti keris tersebut mempunyai tuah seperti maksud dari kutukan empu Gandring.
2. Pamor Adalah sebuah bentuk ilustrasi atau gambar yang muncul dipermukaan bilah keris, nama-nama pamor sangat banyak dan beragam sesuai bentuk dan kemiripannya dengan alam, sebagai contoh ; Pamor Beras Wutah, Pamor Sasa Sakler, Pamor Blarak Ngirid, Pamor Udan Mas dan lain sebagainya. Terdapat beberapa jenis pamor yang memang mempunyai tuah yang kurang baik antara lain :
1. Pamor Satria Wirang : membawa kesengsaraan pemiliknya.
2. Pamor Sujen Nyawa : pusaka ini menginginkan pemiliknya untuk segera meninggal.
3. Pamor Dengkiling : mempunyai angsar cengkiliing / jahil pada pemiliknya.
4. Pamor Yoga Pati : angsarnya anak pemilik pusaka sering sakit sakitan.
5. Pamor Tundung : membuat pemiliknya sering pindah-pindah tempat / usaha.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, semua hasil karya manusia yang gagal atau salah dalam perhitungan, pengerjaan atau perencanaan akibatnya akan dapat membahayakan manusia, jadi tidak hanya keris. Jembatan, rumah, toko, gedung juga memiliki pengaruh yang tidak baik bagi yang menempati atau memiliki jika terdapat kegagalan dalam proses pembuatannya. intinya jika sesuatu hal itu dirancang dan dikerjakan dengan perencanaan yang matang, hati yang baik dan iklas maka hasilnya juga akan baik.

Hikayat Keris

2010 August 28
Posted by mbah12

1. Keris Empu Gandring

Keris ini tak jelas lurus atau berluk, karya Empu Gandring (13M). Empu Gandring dibunuh oleh Ken Arok, dikarenakan keris pesanannya belum jadi. Menjelang ajal, sang Empu mengutuk jika kelak keris buatannya tersebut akan membunuh sampai 7 turunan, mereka ialah: Empu Gandring, Akuwu Tunggul Ametung (suami Ken Dedes), Ken Arok, Pesuruh Anusapati (anak tiri Ken Arok), Anusapati, dan yang terakhir terbunuh adalah Tohjaya tahun 1428, terluka disaat ada pemberontakan di Istana. Dan keris karya Empu Gandring pada abad 13 itu, sekarang ditanam didalam candi Anusapati alias candi jago, di Tumpang kabupaten Malang – Jawa Timur.

2. Keris Jalak Sumelang Gandring

Prabu Brawijaya II mengutus Empu Supa Mandrangi untuk mencari keris Jalak Sumelang Gandring miliknya yang hilang. Empu Supa Mandrangi menyanggupinya, lalu pergi ke Blambangan dengan berganti nama Empu Pitrang. Karena kepandaiannya sebagai Empu pembuat keris, Sang Adipati Blambangan memesan keris kepada Empu Pitrang sambil membawa contohnya. Ternyata, keris tersebut adalah Jalak Sumelang Gandring milik sang Prabu Brawijaya. Maka Empu Pitrang membuat 2 bilah keris duplikatnya. Setelah selesai, keris pesanan Adipati Ciung Lautan diserahkannya, sedangkan aslinya disembunyikannya. Senang, hati sang Adipati menerima hasil karya Empu Pitrang, sebagai hadiahnya, Adipati Blambangan tersebut menikahkan putrinya dengan Empu Pitrang. Sebenarnya sudah seringkali sang putri Adipati dinikahkan, namun, kesemua suaminya mati secara misterius. Mengetahui adanya peristiwa aneh tersebut, maka dengan segala kesaktiannya Empu Pitrang menyelidiki penyebabnya, akhirnya Empu Pitrang tahu jika dikemaluan sang putri bersembunyi ular “welang”. Maka tidak heran jika setiap menyenggamainya selalu mati digigit ular welang. Kemudian Empu Pitrang mengeluarkan ular welang tersebut dan menanamnya dibawah pohon “kara”, sebangsa sayuran buncis. Akan tetapi malam harinya ular tersebut sudah tidak ada dan berubah menjadi sebilah keris pusaka berluk 3, yang oleh Empu Pitrang diberi nama keris “karawelang”. Sewaktu sang putri hamil, Empu Pitrang pamit pergi ke Kerajaan Majapahit sambil menitipkan pesan, jika kelak anaknya lahir agar diberi nama Jaka Sura. Sesampainya Di Kerajaan Majapahit, Empu Pitrang alias Empu Mandrangi menyerahkan keris pusaka jalak sumelang gandring kepada Prabu Brawijaya, yang telah ditemukannya kembali. Sangat gembira hati Sang Prabu, yang kemudian menganugerahi gelar ” Pangeran Sedayu”. Ditempat yang lain setelah selang beberapa waktu lamanya, Jaka Sura lahir. Dan diketika beranjak dewasa, Jaka Sura pergi mencari ayahnya Empu Pitrang ke Majapahit. Disepanjang perjalanannya, Jaka Sura membuat keris-keris yang aneh, hanya dipijit-pijit dengan tangan tanpa ditempa, serta ujungnya dilubangi untuk mengkaitkannya dengan tali. Kemudian setiap berjumpa dengan seseorang keris tersebut diberikannya. Akhirnya Jaka Sura berhasil bertemu dengan ayahnya Pangeran Sedayu alias Empu Supa Mandrangi alias Empu Pitrang. Lalu keduanya sama-sama mengabdi di Keraton Majapahit. Berikut ciri khas pusaka buatan Jaka Sura: 1. keris-keris pijitan dan pesinya berlubang. 2. Pedang ampuh, mampu mematahkan pintu. Oleh Prabu Brawijaya diberi nama ” Pedang Sang Lawang “.

3. Keris Condong Campur VS Keris Sengkelat

Suatu ketika kerajaan Majapahit tertimpa pageblug dan Empu Supa Mandrangi mendapat perintah Prabu Brawijaya untuk mengatasinya. Dari hasil bersemedi, Empu Supa mengetahui jika pusaka keraton Majapahit yang bernama Condong Campur selalu menganga menginginkan darah manusia. Lalu dengan bahan besi pilihan Empu Supa membuat keris berluk 11 Naga Sasra Sabuk Inten dan keris berluk 13 Sengkelat. Setelah jadi, keduanya ditempatkan satu peti dengan Condong Campur, disitulah Sengkelat berkelahi melawan Condong Campur. Ujung keris condong campur patah, musnah keangkasa raya, sambil mengancam rakyat akan balas dendam jika terlihat Bintang Kemukus disebelah barat. Itulah sebabnya orang Jawa percaya jika ada bintang kemukus dilangit pada malam hari merupakan pertanda adanya wabah penyakit yang menjangkiti rakyat, oleh karenanya untuk menolaknya orangpun membuat sesaji.

4. Tombak Baru Klinthing

Pada masa Kerajaan Pajang, bertapalah seekor ular Naga melingkari puncak gunung merapi. Ki Ageng Pemanahan menerima bisikan ghaib bahwa, bila ular naga itu berhasil melingkarkan dirinya dipuncak merapi, jayalah Kerajaan Pajang dan Suta Wijaya anak Ki Ageng Pemanahan tak bisa menjadi Raja. Ular naga tadi nyaris sampai melingkarkan kepala dan ekornya dan Ki Ageng Pemanahan minta bantuan kepada Ki Ageng Wanabaya di Mangir yang terkenal sakti. Jika berhasil, Ki Ageng Mangir akan diberi separo negeri Pajang. Akhirnya Ki Ageng Mangir mampu mencegah usaha ular naga dengan memotong lidahnya disaat ular naga menjulurkan kepala dengan lidahnya. Lidah Naga tersebut menghilang dan berubah wujud menjadi pusaka sebilah tombak. Ki Ageng Wanabaya Mangir mengambilnya dan diberi nama Tombak Baru Klinthing. Pada gilirannya, Ki Ageng Pemanahan berhasil merebut Pajang dan Sutawijaya mendirikan Kerajaan Mataram bergelar “Panembahan Senapati. Tapi, janjinya diingkari, lalu Ki Ageng Wanabaya menjadi pembangkang. Pihak Mataram berupaya menaklukkan Ki Ageng Wanabaya. Dikorbankanlah Sang Putri mahkota Pembayun. Dia dan abdinya menyamar sebagai ledek disekitar daerah Mangir. Terpesonalah Ki Ageng Mangir dengan rombongan kecil ledek pembayun, yang akhirnya diangkat menjadi istri. Pada suatu kesempatan pembayun melaksanakan tugasnya, mengusap tombak pusaka sakti baru klinthing dengan sampur sonder ikat pinggang ledek. Disaat tombak pusaka sudah berkurang kesaktiannya, yang bertepatan pula dengan kehamilan sang putri Pembayun, maka mengakulah bahwa sebenarnya Pembayun adalah putri mahkota anak panembahan senopati. Walaupun dengan berat hati, Ki Ageng Wanabaya melaksanakan permintaan agar sungkem ke mertuanya. Disaat sungkem, Kepalanya ditatapkan kebatu gilang oleh Panembahan Senapati. Seketika itu pula Ki Ageng Wanabaya menemui ajalnya. Jenazahnya yang separo dikebumikan dipemakaman keluarga Raja-raja Mataram, separohnya lagi diluar batas makam kerajaan, suatu simbol separuh musuh separuh anak menantu. Kini pusaka tombak baru klinthing tersimpan di Keraton Mataram Yogyakarta.

Mengenal Keris Dan Tuahnya

2010 August 28
Posted by mbah12

Magic yang keluar dari aura keris, banyak orang yang menyebutnya sebagai ilmu hipnotis atau daya saran, bagi manusia atau hewan dapat juga berpengaruh oleh daya saran tersebut. Sehingga apapun yang disugestikan oleh seorang hipnotisur akan mempengaruhi jalan pikirannya.

Berdasarkan ilmu perkerisan, bisa disimpulkan, bahwa para empu zaman dulu adalah seorang pakar ahli bathin, sehingga mereka mampu menciptakan sebilah keris dengan memasukkan ilmu aji atau postipnotis pada tiap tempaannya sehingga serat keris itu jadi mempunyai suatu daya magic yang sangat besar pengaruhnya.

Berdasarkan hasil penelitian para psikologi tersebut. Keris menjadi suatu kepercayaan dan kebanggaan si pemegang karena tuahnya, bahkan dari situ pula sugesti orang akan terpanggil. Seperti keris bisa berwujud manusia serem, berubah seekor naga dan lain-lain.

Konon permulaan keris terjadi di zaman pewayangan. Dalam prasejarah mengatakan para dewa membuatnya untuk para manusia bumi yang membutuhkan. Sebut saja keluarga Bharata. Baik itu dari kelompok Astina atau kalangan Pandawa. Tentunya mereka harus melalui ritual yang cukup lama sehingga para dewa mereka kasihan dan akhirnya memberi pusaka tersebut.

Namun dalam perang Bharatayuda, keris pemberian dewa banyak yang hilang, diantaranya, Sang Yuyu Rumpung (berbentuk lurus), Sang Pasopati (berbentuk lurus), Sang Bango Dolog (berluk 3), Sang Bakung (berluk 5), Sang Balebang (berluk 11), Sang Keracan (berluk 10) dan masih banyak yang lainnya.

Sehingga pada zaman Majapahit yang pertama, sang raja memerintahkan kepada seluruh empu sakti madraguna untuk membuat keris yang mirip dengan beberapa keris pembuatan para dewa dan dengan kepandaian mereka semua. Akhirnya terlahir juga bentuk keris yang sangat mumpuni sebagai pegangan para raja zaman itu.

Sebagai pengenalan dasar, kita juga harus tahu tentang apa yang disebut Madya atau zaman pembuatan, karena semua itu adalah kunci awal untuk mengenal lebih dekat keindahan sebuah magic keris dan perawatannya, dan disini dibagi menjadi 5 Madya, diantaranya :

KUNO
Sebuah pembuatan keris yang dibikin antara tahun 125 M – 1125 M oleh
beberapa Empu di zaman purwacarita, beliau adalah, Empu Hyang Ramadi, Empu Iskadi, Empu Sugarti, Empu Mayang dan Empu Sarpadewa.

MADYA KUNO
Sebuah pembuatan keris yang dibikin antara tahun 1126 m – 1250 m
meliputi Kerajaan Jenggala, Kediri, Pajajaran dan Cirebon.
Empunya adalah, Kyai Gebang, Kyai Bayu Aji, Nini Sumbro, Empu Akas, Empu Lung Lungan, Empu Dewayani dan lain-lain.

MADYA PERTENGAHAN
Sebuah pembuatan keris yang bikin dibikin antara tahun 1251 m – 1459 m meliputi kerajaan, Jenggala, Kediri, Tuban, Madura dan Blambangan. Empu pada masa itu adalah, Empu Bromo Koolali, Empu Luwuk, Empu Sriloka, Empu Sutapasana, Empu Kuwung dan Empu kisa.

TENGAH
Sebuah pembuatan keris yang dibikin antara tahun 1460 M – 1613 M meliputi kerajaan, Madiun, Demak, Pajang dan Mataram.
Empunya adalah, Empu Tudung, Empu Joko Supo, Empu, Empu Lobang, Empu Looning, Empu Kithing, Empu Warih dan Empu Madrim.

MUDA
Sebuah pembuatan keris yang dibikin antara tahun 1614 M hingga para empu sakti telah tiada, meliputi kerajaan Kertasura dan Surakarta, empunya adalah Empu Mangun Malelo, Empu Tarung Wongso, Empu Hastronoyo, Empu Wiro Sukadgo, Empu Brojo Sentiko dan Empu Sendang Warih.

Untuk lebih mengenal jauh tentang perkerisan, banyak cara yang harus ditelaah, seperti saat kita menemukan sebuah keris misalnya. Tentunya keris itu pasti berkarat atau berwarna kitam legam, sehingga untuk mengecek pamor atau bentuk keseluruhan keris jadi terhalang akibatnya.

Nah, untuk mempermudah membersihkan sebilah keris, baik itu dari noda karat atau bekas luluran minyak cobalah ikuti cara sebagai berikut :
- Siapkan air kelapa hijau 2 buah dan 10 jeruk nipis.
- Rendamlah keris tersebut pada air kelapa tadi. Lalu potonglah semua jeruk nipis menjadi 4 bagian, masukkan semua potongan jeruk nipis ke dalam air kelapa dan biarkan selama 24 jam lamanya.

Bila sudah mencapai waktu yang maksimal, angkatlah keris tersebut, biasanya keris menjadi bersih dan mengkilat, tapi bila masih tersisa noda pakailah sikat gigi untuk menghilangkannya. Dan dari situ pula kita akan bisa melihat secara seksama keaslian bahan keris juga pamor secara menyeluruh.

Dalam pengenalan bentuk keris, tentunya kita harus memahami betul dari mana keris itu dibuat, zaman apa dan dari kerajaan mana. Untuk semua itu bisa kita lihat lewat bahan, warna besi juga warna pamor, “dimana letak rahasianya”.
Setiap kerajaan zaman dulu juga para empu yang membuatnya, semua mempunyai perbedaan yang mencolok, yaitu :

- Bilahan keris dengan bahan besi berwarna keputih-putihan serta pamornya yang mempunyai warna putih gajih, juga bila diraba terasa kering, maka sudah dipastikan keris tersebut dibikin pada zaman kerajaan Pajajaran.

- Bilahan keris dengan bahan besi berwarna hitam kebiruan serta pamornya yang menyerupai bentuk rambut. Bila dipegang terasa keras dan kuat, maka ciri seperti itu dibikin oleh para empu kerajaan Majapahit.

-Bilahan keris dengan bahan besi berwarna putih jelas, serta mempunyai pamor rambut berwarna putih gajih, bila diraba berkesan basah dan agak lembek, maka keris tersebut mempunyai ciri khas berasal dari kerajaan Blambangan.

- Bilahan keris dengan bahan besi berwarna hitam kebiruan serta punya pamor yang tak jelas, bila diraba terasa basah, maka keris dengan ciri seperti itu pasti dibikin para empu dari kerajaan Demak.

- Bilahan keris dengan bahan besi berwarna kebiru-biruan serta punya pamor halus berwarna putih bersih, bila diraba terasa kering dan padat berisi, maka bisa dipastikan keris tersebut yang bikinnya para empu kerajaan Mataram.

Begitulah cerita sebilah keris, namun sebaiknya kita juga harus memahami tentang khasiat dari keris itu sendiri. Agar dikemudian hari tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Cara seperti itu disebut dengan nama MENDATA BUNYI.

Caranya juga sangat mudah lepaskan gagang keris (telanjang) gapitlah sepertiga bilahan keris dengan ibu jari dan telunjuk (diapit) dekatkan bilakan keris pada kuping sebelah kiri. Lalu bilahan tersebut ditingting atau dipukul dengan kuku jari telunjuk yang kanan. Biasanya dari pantulan itu akan terdengar bunyi thing, gong, ngong, teng atau gur. Dari tata cara seperti tu akan bisa melihat karakter dari pembawaan atau sifat keris tersebut.

Mendengung seperti suara lebah, biasanya keris semacam itu mempunyai pamor melengkung atau bergelombang, nama besinya Karang Kijang, manfaatnya pendiam dan sabar.

Guurrr ….. warna besinya hijau metalik, nama besinya Karindu Aji, manfaatnya untuk kewibawaan, cepat kaya dan posisinya baik.

Guunggg …… warna besi ungu kebiruan, nama besinya Walulin, manfaatnya badan sehat, dihormati orang, mudah menyelesaikan masalah.

Duuungg ….. warna besinya biru bening, nama besinya Windu Aji, manfaatnya untuk keselamatan.

Nonggg …….warna besinya kuning kehijauan, nama besinya Walangi, manfaatnya lancar dalam sandang pangan, pengasihan dan bagus untuk karier simpan pinjam.

Preng ……. warna besinya putih kebiruan, nama besinya Melelaruyun, manfaatnya untuk kedigjayaan atau kekuatan.

Nong-ngong …… warna besinya hitam legam, nama besinya Warani, manfaatnya bisa mencapai derajat tinggi, kaya raya dan selalu sukses dalam menjalankan pemerintahan.

Berdengung …… warna besinya hitam lumut, nama besinya Terate, manfaatnya untuk pengasihan.

Tuuuunggg ……. Warna besinya putih mentah, nama besinya Malelagedaga, manfaatnya sabar, dan selalu dikasihani.

Trungg …. Warna besinya putih mentah, nama besinya Kanthot, manfaatnya untuk ketentraman keluarga.

Begitulah sepenggal pemahaman sebilah keris. Semoga menjadi suatu kajian wabil khusus, kolektor-kolektor handal di bidangnya. Amib Ya Robbal Alamin.

Sumber : idris nawawi

Tips Perawatan Keris Pusaka

2010 August 28
Posted by mbah12

Untuk menjaga/melestarikan pusaka supaya tidak rusak, sebaiknya pusaka dirawat sebagai berikut: 1. Setiap 35 hari sekali, pusaka sebaiknya diminyaki dengan minyak pusaka/mengoles memakai kuas (dengan ujung kuas 0,5cm-1cm); Agar mudah mengingat, adalah hari kelahiran/wetonannya yang punya pusaka tersebut. Tujuan peminyakan: supaya pusaka tidak mudah berkarat/korosif. 2. Setiap satu tahun sekali usahakan untuk selalu dijamas/diwarangi, meski pusaka masih tampak bersih. Hal ini dilakukan bertujuan supaya pusaka tetap terjaga seni keindahannya antara: Pamor/putih, Besi/hitam dan Baja/abu-abu. Serahkan jamasan tersebut kepada ahlinya untuk menghindari salah rawat dan luka tergores.

Istilah Dalam Dunia Keris

2010 August 28
Posted by mbah12

Dalam budaya perkerisan ada sejumlah istilah yang terdengar asing bagi orang awam.. Pemahaman akan istilah-istilah ini akan sangat berguna dalam proses mendalami pengetahuan mengenai keris. Istilah dalam dunia keris, khususnya di Pulau Jawa, yang sering dipakai: angsar, dapur, pamor, perabot, tangguh, tanjeg, dan lain sebagainya.
Di bawah ini adalah uraian singkat yang disusun secara alfabetik mengenai istilah perkerisan. Istilah ini lazim digunakan di Pulau Jawa dan Madura, tetapi dimengerti dan kadang kala juga digunakan di daerah lainnya, seperti Sulawesi, Sumatra, dan bahkan di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Keris Bima, Nusa Tenggara Barat. Keris ini diduga milik keluarga bangsawan tinggi, sarung dan hulunya berlapis emas.

Angsar
adalah daya kesaktian yang dipercaya oleh sebagian orang terdapat pada sebilah keris. Daya kesaktian atau daya gaib itu tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan oleh orang yang percaya. Angsar dapat berpengaruh baik atau posistif, bisa pula sebaliknya.
Pada dasarnya, semua keris ber-angsar baik. Tetapi kadang-kadang, angsar yang baik itu belum tentu cocok bagi setiap orang. Misalnya, keris yang angsar-nya baik untuk seorang prajurit, hampir pasti tidak cocok bila dimiliki oleh seorang pedagang. Keris yang angsar-nya baik untuk seorang pemimpin yang punya banyak anak buah, tidak sesuai bagi pegawai berpangkat rendah.
Guna mengetahui angsar keris, diperlukan ilmu tanjeg. Sedangkan untuk mengetahui cocok dan tidaknya seseorang dengan angsar sebuah keris, diperlukan ilmu tayuh.

Dapur
Adalah istilah yang digunakan untuk menyebut nama bentuk atau type bilah keris. Dengan menyebut nama dapur keris, orang yang telah paham akan langsung tahu, bentuk keris yang seperti apa yang dimaksud. Misalnya, seseorang mengatakan: “Keris itu ber-dapur Tilam Upih”, maka yang mendengar langsung tahu, bahwa keris yang dimaksud adalah keris lurus, bukan keris yang memakai luk. Lain lagi kalau disebut dapur-nya Sabuk Inten, maka itu pasti keris yang ber-luk sebelas.
Dunia perkerisan di masyarakat suku bangsa Jawa mengenal lebih dari 145 macam dapur keris. Namun dari jumlah itu, yang dianggap sebagai dapur keris yang baku atau mengikuti pakem hanya sekitar 120 macam saja. Serat Centini, salah satu sumber tertulis, yang dapat dianggap sebagai pedoman dapur keris yang pakem memuat rincian jumlah dapur keris sbb:

Keris lurus ada 40 macam dapur. Keris luk tiga ada 11 macam. Keris luk lima ada 12 macam. Keris luk tujuh ada 8 macam. Keris luk sembilan ada 13 macam. Keris luk sebelas ada 10 macam. Keris luk tigabelas ada 11 macam. Keris luk limabelas ada 3 macam. Keris luk tujuhbelas ada 2 macam. Keris luk sembilan belas, sampai luk duapuluh sembilan masing-masing ada semacam.
Namun, menurut manuskrip Sejarah Empu, karya Pangeran Wijil, jumlah dapur yang dianggap pakem lebih banyak lagi. Catatan itu menunjukkan dapur keris lurus ada 44 macam, yang luk tiga ada 13 macam, luk sebelas ada 10 macam, luk tigabelas ada11 macam, luk limabelas ada 6 macam, luk tujuhbelas ada 2 macam, luk sembilanbelas sampai luk duapuluh sembilan ada dua macam, dan luk tigapuluh lima ada semacam.
Jumlah dapur yang dikenal sampai dengan dekade tahun 1990-an, lebih banyak lagi.

Luk
Istilah ini digunakan untuk bilah keris yang tidak lurus, tetapi berkelok atau berlekuk. Luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Hitungannya mulai dari luk tiga, sampai luk tigabelas. Itu keris yang normal. Jika luknya lebih dari 13, dianggap sebagai keris yang tidak normal, dan disebut keris kalawijan atau palawijan.
Jumlah luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Selain itu, irama luk keris dibagi menjadi tiga golongan. Pertama, luk yang kemba atau samar. Kedua, luk yang sedeng atau sedang. Dan ketiga, luk yang rengkol — yakni yang irama luknya tegas.

Luk keris. Angka-angka menunjukkan bilangan jumlah luknya.

Mas kawin
Dalam dunia perkerisan adalah pembayaran sejumlah uang atau barang lain, sebagai syarat transaksi atau pemindahan hak milik atas sebilah keris, pedang, atau tombak. Dengan kata yang sederhana, mas kawin atau mahar adalah harga.
Istilah mas kawin atau mahar ini timbul karena dalam masyarakat perkerisan terdapat kepercayaan bahwa isi sebilah keris harus cocok atau jodoh dengan pemiliknya. Jika isi keris itu jodoh, si pemilik akan mendapat keberuntungan, sedangkan kalau tidak maka kesialan yang akan diperoleh. Dunia perkerisan juga mengenal istilah melamar, bilamana seseorang berminat hendak membeli sebuah keris.

Mendak
adalah sebutan bagi cincin keris, yang berlaku di Pulau Jawa, Bali, dan Madura. Di daerah lain biasanya digunakan istilah cincin keris. Mendak hampir selalu dibuat dari bahan logam: emas, perak, kuningan, atau tembaga. Banyak di antaranya yang dipermewah dengan intan atau berlian. Pada zaman dulu ada juga mendak yang dibuat dari besi berpamor.
Selain sebagai hiasan kemewahan, mendak juga berfungsi sebagai pembatas antara bagian hulu keris atau ukiran dengan bagian warangka.

Pamor
Pamor dalam dunia perkerisan memiliki 3 (tiga) macam pengertian. Yang pertama menyangkut bahan pembuatannya; misalnya: pamor meteorit, pamor Luwu, pamor nikel, dan pamor sanak. Pengertian yang kedua menyangkut soal bentuk gambaran atau pola bentuknya. Misalnya: pamor Ngulit Semangka, Beras Wutah, Ri Wader, Adeg, dan sebagainya. Ketiga, menyangkut soal teknik pembuatannya, misalnya: pamor mlumah, pamor miring, dan pamor puntiran.

Dua macam pamor yang tergolong jenis pamor miring.

Selain itu, ditinjau dari niat sang empu, pola pamor yang terjadi masih dibagi lagi menjadi dua golongan. Kalau sang empu membuat pamor keris tanpa merekayasa polanya, maka pola pamor yang terjadi disebut pamor tiban. Orang akan menganggap bentuk pola pamor itu terjadi karena anugerah Tuhan. Sebaliknya, jika sang empu lebih dulu membuat rekayasa pla pamornya, disebut pamor rekan [rékan berasal dari kata réka = rekayasa]. Contoh pamor tiban, misalnya: Beras wutah, Ngulit Semangka, Pulo Tirta. Contoh pamor rekan, misalnya: Udan Mas, Ron Genduru, Blarak Sinered, dan Untu Walang.

Keris dapur Sepang. Pamornya Wos Wutah yang tergolong jenis pamor mlumah.

Ada lagi yang disebut pamor titipan atau pamor ceblokan, yakni pamor yang disusulkan pembuatannya, setelah bilah keris selesai 90 persen. Pola pamor itu disusulkan pada akhir proses pembuatan keris. Contohnya, pamor Kul Buntet, Batu Lapak, dll.

Pamor Kul Buntet yang tergolong pamor titipanPamor Batu Lapak

Pendok
berfungsi sebagai pelindung atau pelapis gandar, yaitu bagian warangka keris yang terbuat dari kayu lunak. Namun fungsi pelindung itu kemudian beralih menjadi sarana penampil kemewahan. Pendok yang sederhana biasanya terbuat dari kuningan atau tembaga, tetapi yang mewah terbuat dari perak atau emas bertatah intan berlian.
Bentuk pendok ada beberapa macam, yakni pendok bunton, blewehan, slorok, dan topengan.

Pendok keris: No 1 sampai 4 gaya Surakarta, no. 5 gaya Yogyakarta.

Perabot
Dalam dunia perkerisan, asesoris bilah keris disebut perabot keris. Perlengkapan atau asesoris itu meliputi warangka atau sarung keris, ukiran atau hulu keris, mendak atau cincin keris, selut atau pedongkok, dan pendok atau logam pelapis warangka.

Ricikan
Adalah bagian-bagian atau komponen bilah keris atau tombak. Masing-masing ricikan keris ada namanya. Dalam dunia perkerisan soal ricikan ini penting, karena sangat erat kaitannya dengan soal dapur dan tangguh keris.
Sebilah keris ber-dapur Jalak Sangu Tumpeng tanda-tandanya adalah berbilah lurus, memakai gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil. Gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil, adalah komponen keris yang disebut ricikan..

Selut
seperti mendak, terbuat dari emas atau perak, bertatahkan permata. Tetapi fungsi selut terbatas hanya sebagai hiasan yang menampilkan kemewahan. Dilihat dari bentuk dan ukurannya, selut terbagi menjadi dua jenis, yaitu selut njeruk pecel yang ukurannya kecil, dan selut njeruk keprok yang lebih besar.
Sebagai catatan; pada tahun 2001, selut nyeruk keprok yang bermata berlian harganya dapat mencapai lebih dari Rp. 20 juta!
Karena dianggap terlalu menampilkan kemewahan, tidak setiap orang mau mengenakan keris dengan hiasan selut.

Selut gaya Surakarta, jenis njeruk keprok

Tangguh
Tangguh arti harfiahnya adalah perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Karena hanya merupakan perkiraan, me-nangguh keris bisa saja salah atau keliru. Kalau sebilah keris disebut tangguh Blambangan, padahal sebenarnya tangguh Majapahit, orang akan memaklumi kekeliruan tersebut, karena bentuk keris dari kedua tangguh itu memang mirip. Tetapi jika sebuah keris buatan baru di-tangguh keris Jenggala, maka jelas ia bukan seorang ahli tangguh yang baik.
Walaupun sebuah perkiraan, tidak sembarang orang bisa menentukan tangguh keris. Untuk itu ia perlu belajar dari seorang ahli tangguh, dan mengamati secara cermat ribuan bilah keris. Ia juga harus memiliki photographic memory yang kuat.

Bentuk keris tangguh Segaluh

Mas Ngabehi Wirasoekadga, abdidalem Keraton Kasunanan Surakarta, dalam bukunya Panangguhing Duwung (Sadubudi, Solo, 1955) membagi tangguh keris menjadi 20 tangguh. Ia tidak menyebut tentang tangguh Yogyakarta, melainkan tangguh Ngenta-enta, yang terletak di dekat Yogya. Keduapuluh tangguh itu adalah:

1. Pajajaran 2. Tuban 3. Madura 4. Blambangan 5. Majapahit
6. Sedayu 7. Jenu 8. Tiris-dayu 9. Setra-banyu 10. Madiun
11. Demak 12. Kudus 13. Cirebon 14. Pajang 15. Pajang
16. Mataram 17. Ngenta-enta,Yogyakarta 18. Kartasura 19. Surakarta

Keris Buda dan tangguh kabudan, walaupun di kenal masyarakat secara luas, tidak dimasukan dalam buku buku yang memuat soal tangguh. Mungkin, karena dapur keris yang di anggap masuk dalam tangguh Kabudan dan hanya sedikit, hanya dua macam bentuk, yakni jalak buda dan betok buda.

Sementara itu Bambang Harsrinuksmo dalam Ensiklopedi Keris (Gramedia, Jakarta 2004) membagi periodisasi keris menjadi 22 tangguh, yaitu:

1. Tangguh Segaluh 2. Tangguh Pajajaran
3. Tangguh Kahuripan 4. Tangguh Jenggala
5. Tangguh Singasari 6. Tangguh Majapahit
7. Tangguh Madura 8. Tangguh Blambangan
9. Tangguh Sedayu 10. Tangguh Tuban
11. Tangguh Sendang 12. Tangguh Pengging
13. Tangguh Demak 14. Tangguh Panjang
15. Tangguh Madiun 16. Tangguh Koripan
17. Tangguh Mataram Senopaten 18. Mataram Sultan Agung
19. Mataram Amangkuratan 20. Tangguh Cirebon
21. Tangguh Surakarta 22. Tangguh Yogyakarta

Ada lagi sebuah periode keris yang amat mudah di-tangguh, yakni tangguh Buda. Keris Buda mudah dikenali karena bilahnya selalu pendek, lebar, tebal, dan berat. Yang sulit membedakannya adalah antara yang aseli dan yang palsu.

Tanjeg
adalah perkiraan manfaat atau tuah keris, tombak, atau tosan aji lainnya. Sebagian pecinta keris percaya bahwa keris memiliki ‘isi’ yang disebut angsar. Kegunaan atau manfaat angsar keris ini banyak macamnya. Ada yang menambah rasa percaya diri, ada yang membuat lebih luwes dalam pergaulan, ada yang membuat nasihatnya di dengar orang. Untuk mengetahui segala manfaat angsar itu, diperlukan ilmu tanjeg. Dalam dunia perkerisan, ilmu tanjeg termasuk esoteri keris.

Tayuh
Merupakan perkiraan tentang cocok atau tidaknya, angsar sebilah keris dengan (calon) pemiliknya. Sebelum memutuskan, apakah keris itu akan dibeli (dibayar mas kawinnya), si peminat biasanya terlebih dulu akan me- tayuh atas keris itu. Tujuannya untuk mengetahui, apakah keris itu cocok atau berjodoh dengan dirinya.

Ukiran
Kata ukiran dalam dunia perkerisan adalah gagang atau hilt. Berbeda artinya dari kata ‘ukiran’ dalam bahasa Indonesia yang padanannya ialah carved atau engraved. Gagang keris di Bali disebut danganan, di Madura disebut landheyan, di Surakarta disebut jejeran, di Yogyakarta disebut deder. Sedangkan daerah lain di Indonesia dan Malaysia, Singapura, serta Brunei Darussalam disebut hulu keris.

Ukiran gaya Surakarta wanda Maraseba

Javakeris memakai istilah ukiran dan hulu keris mengingat semua daerah itu juga mengenal dan memahami arti kata ukiran dalam perkerisan. Bentuk ukiran atau hulu keris di setiap daerah berbeda satu sama lain.

Di bawah ini adalah contoh bentuk hulu keris dari beberapa daerah.

Warangka
Atau sarung keris kebanyakan terbuat dari kayu yang berserat dan bertekstur indah. Namun di beberapa daerah ada juga warangka keris yang dibuat dari gading, tanduk kerbau, dan bahkan dari fosil binatang purba. Warangka keris selalu dibuat indah dan sering kali juga mewah. Itulah sebabnya, warangka juga dapat digunakan untuk memperlihatkan status sosial ekonomi pemiliknya.
Bentuk warangka keris berbeda antara satu daerah dengan lainnya. Bahkan pada satu daerah seringkali terdapat beberapa macam bentuk warangka. Perbedaan bentuk warangka ini membuat orang mudah membedakan, sekaligus mengenali keris-keris yang berasal dari Bali, Palembang, Riau, Madura, Jawa, Bugis, Bima, atau Malaysia.

Berikut adalah jenis-jenis warangka dari berbagai daerah perkerisan:

Warangka Surakarta
Biasanya terbuat dari kayu cendana wangi atau cendana Sumbawa (sandalwood – Santalum Album L.) Pilihan kedua adalah kayu trembalo, setelah itu kayu timaha pelet.
Warangka ladrang terbagi menjadi empat wanda utama, yaitu Ladrang Kasatriyan, Ladrang Kadipaten, Ladrang Capu, dan Ladrang Kacir. Dua wanda yang terakhir sudah jarang dibuat, sehingga kini menjadi langka.
Warangka ladrang adalah jenis warangka yang dikenakan untuk menghadiri suatu upacara, pesta, dan si pemakai tidak sedang melaksanakan suatu tugas. Bila dibandingkan pada pakaian militer, warangka ladrang tergolong Pakaian Dinas Upacara (PDU).

Ladrang Kadipaten

Selain ladrang, di Surakarta juga ada warangka gayaman, yang dikenakan pada saat orang sedang melakukan suatu tugas. Misalnya, sedang menjadi panitia pernikahan, sedang menabuh gamelan, atau sedang mendalang. Prajurit keraton yang sedang bertugas selalu mengenakan keris dengan warangka gayaman.

Warangka gayaman Surakarta juga ada beberapa jenis, di antaranya: Gayaman Gandon, Gayaman Pelokan, Gayaman Ladrang, Gayaman Bancigan, Gayaman Wayang.

Jenis warangka yang ketiga adalah warangka Sandang Walikat. Bentuknya sederhana dan tidak gampang rusak. Warangka jenis inilah yang digunakan manakala seseorang membawa (bukan mengenakan) sebilah keris dalam perjalanan.

Warangka Sandang Walikat

Warangka Yogyakarta
Warangka branggah Yogyakarta terbuat dari kayu kemuningBentuk warangka di Yogyakarta mirip dengan Surakarta, hanya ukurannya agak lebih kecil, gayanya lebih singset. Yang bentuknya serupa dengan warangka ladrang, di Yogyakarta disebut branggah. Kayu pembuat warangka branggah di Yogyakarta adalah kayu trembalo dan timaha. Sebenarnya penggunaan warangka branggah di Yogyakarta sama dengan warangka ladrang di Surakarta, tetapi beberapa dekade ini norma itu sudah tidak terlalu ketat di masyarakat.
Jenis bentuk warangka Yogyakarta lainnya adalah gayaman. Dulu ada lebih kurang delapan jenis warangka gayaman, tetapi kini hanya dua jenis wanda warangka yang populer, yakni gayaman ngabehan dan gayaman banaran. Warangka gayaman dikenakan pada saat seseorang tidak sedang mengikuti suatu upacara.
Jenis bentuk warangka yang ketiga adalah sandang walikat, yang boleh dibilang sama bentuknya dengan sandang walikat gaya Surakarta.

Fungsi Keris

2010 August 28
Posted by mbah12

1. Keris sebagai senjata> Menurut Lord Abberton of Eaton, keris pertama diciptakan oleh Panji Inukertapati. Bentuk keris pada relief candi penataran berbeda dengan bentuk keris yang biasa kita jumpai, hal ini dikarenakan penyesuaian dengan perkembangan zaman. Namun corak dan gayanya menandakan sebagai senjata tikam.
2. Keris sebagai peninggalan/pusaka wasiat> Apabila seseorang akan tiba ajalnya atau jauh hari sebelumnya, banyak yang sudah mewasiatkan sesuatu peninggalan yang dianggap berharga semisal tanah, sawah maupun rumah, begitu pula sebilah keris, sesuatu yang paling membanggakan jika pewarisnya diberi kepercayaan untuk memeliharanya.
3. Keris sebagai lambang identitas pribadi> sebilah keris erat kaitannya dengan identitas seseorang, lihatlah keris jaka piturun dengan para Sultan di Yogyakarta, keris Kyai Setan Kober dengan Arya Penangsang, keris Kyai Pulanggeni dengan Raden Harjuna, tombak Kyai Baru dengan Ki Ageng Mangir, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh negeri ini.
4. Keris sebagai lambang kemapanan hidup> Bagi seorang lelaki masyarakat Jawa, hidupnya dikatakan paripurna/mapan, jika telah memiliki: Wisma/rumah, Wanita/istri, Turangga/kendaraan, Kukila/hewan piaraan, dan Curiga/keris.
5. Keris sebagai lambang status sosial> Ini tergambar dari ukiran-tangkai keris yang mempunyai wanda/profil, misalnya: samba keplayu, maraseba, mangkurat, yudawinatan, longok, pakubuwanan, pakucumbring dan lainnya, dimana profil tersebut disesuaikan dengan kepribadian dan kedudukan sosial sang pemakai. Begitu pula dari warna pendok kemalon: merah untuk para sentana-minimal para bupati, hijau untuk para mantri, coklat untuk para bekel, hitam untuk para abdi dalem tingkat biasa (mohon dikoreksi apabila pendapat ini keliru.
6. Keris sebagai tanda jasa/satya lencana> Dalam dunia perkerisan, kita mengenal keris berganja kinatah gajah singa, keris ini merupakan satya lencana yang diberikan kepada para perwira/prajurit Mataram yang telah berjasa menumpas pemberontakan kadipaten pati atas kerajaan Mataram (Sultan Agung).
7. Keris sebagai atribut duta> Sewaktu resepsi pernikahan Pangeran Bernard dengan Putri Juliana dari negeri Belanda, Raja Paku Buwana X (Surakarta) mengutus puteranya G.P.H Suryohamidjojo agar menghadiri resepsi tersebut, maka sang putera diberi izin memakai keris Kanjeng Kyai Pakumpulan.
8. Keris sebagai lambang persahabatan> Pada zaman dahulu, tanda mata yang paling tinggi martabatnya adalah keris, ini dibuktikan dengan istilah “kancing gelung” atau “cundhuk ukel” yaitu pemberian sebilah keris lengkap dari orang tua kepada anak perempuannya yang baru saja menikah, yang pada akhirnya tanggung jawab pemeliharaan keris tersebut dipegang menantu lelaki.
9. Keris sebagai falsafah> Bentuk dhapur dan corak pamor yang beraneka ragam memiliki nilai falsafah, dhapur brojol= penggapaian cita-cita, pamor pedaringan kebak= harapan sukses akan material, dan lain sebagainya.
10. Keris sebagai medium sengkalan(chronogram)> Terkenal istilah sirna ilang kertaning bumi (sirna=0, ilang=0, kerta=4, bumi=1), sengkalan tersebut menggambarkan tahun 1400 saka, begitupula ganja berkinatah gajah singa= gajah singa keris siji= berarti tahun 1558 saka, tahun runtuhnya kadipaten Pati oleh prajurit Mataram.
11. Keris sebagai pelengkap busana> Ini sering dijumpai pada saat resepsi pernikahan umpamanya, sehingga kita dengar istilah disengkelit, dianggar dan lainnya yang kesemuanya ditentukan oleh macam upacara.
12. Keris sebagai medium> Medium=perantara, Keris pusaka dianggap mempunyai kekuatan untuk memperlancar komunikasi dua arah antara alam nyata dengan alam ghaib, fungsi inilah sampai kapanpun akan dianggap paling menarik untuk diperbincangkan.
13. Keris sebagai dekorasi> Umumnya keris yang ditempel ditembok atau media lainnya adalah hanya keris semacam souvenir tanpa kandungan aura/yoni/isi, karena dianggap kurang etis bila menempatkan keris hanya dari sisi estetika saja.
14. Keris sebagai benda koleksi> Biasanya, bagi para keluarga yang mempunyai banyak keris dari hasil warisan, maka mereka sebagian besar hanya memandang dari keindahan luarnya saja tanpa menghiraukan aspek spiritualnya. Ini berarti sering diantara mereka memperjualbelikan keris pusaka sebagaimana benda koleksi yang lain.
15. Keris sebagai obyek hobby> Kalangan yang menempatkan keris sebagai hobby adalah mereka yang mengumpulkan banyak keris pusaka hanya untuk pemuasan hati semata, tanpa menghiraukan baik tidaknya sebuah pusaka.

16. Keris sebagai sipat kandel / piandel> Sipat kandel adalah: suatu sarana yang membuat pemiliknya lebih percaya diri untuk meraih nasib baik, terlindung, selamat dan maksud lain yang sejenis. Kalangan pecinta keris pusaka semacam ini menjadikannya sebagai “jimat”. Contoh konkretnya adalah keris Jendral Sudirman, Keris Bung Tomo, Keris Bung Karno, serta nama-nama besar lain negeri ini, disamping para beliau adalah para bijak cendekia namun ada sesuatu yang diharapkan dari keris pusaka, terutama pada saat kritis, hal tersebut adalah hal yang wajar sebagaimana kita membutuhkan sesuatu harus menggunakan alat-alat tertentu untuk mempermudah kerja usaha kita.
Demikianlah uraian singkat kami tentang fungsi sebilah keris pusaka yang bisa kami ketengahkan, besar kiranya harapan kami untuk menerima saran dan kritik dari para pemerhati keris pusaka demi lestarinya warisan nenek moyang yang bernilai tinggi kepada para generasi muda penerus bangsa.

Keris

2010 August 28
Posted by mbah12

Keris adalah senjata tikam khas Indonesia. Berdasarkan dokumen-dokumen purbakala, keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad ke-9. Kuat kemungkinannya bahwa keris telah digunakan sebelum masa tersebut. Menteri Kebudyaan Indonesia, Jero Wacik telah membawa keris ke UNESCO dan meminta jaminan bahwa ini adalah warisan budaya Indonesia.

Penggunaan keris sendiri tersebar di masyarakat rumpun Melayu. Pada masa sekarang, keris umum dikenal di daerah Indonesia (terutama di daerah Jawa, Madura, Bali/Lombok, Sumatra, sebagian Kalimantan, serta sebagian Sulawesi), Malaysia, Brunei, Thailand, dan Filipina (khususnya di daerah Mindanao). Di Mindanao, bentuk senjata yang juga disebut keris tidak banyak memiliki kemiripan meskipun juga merupakan senjata tikam.

Keris memiliki berbagai macam bentuk, misalnya ada yang bilahnya berkelok-kelok (selalu berbilang ganjil) dan ada pula yang berbilah lurus. Orang Jawa menganggap perbedaan bentuk ini memiliki efek esoteri yang berbeda.

Selain digunakan sebagai senjata, keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.

Tata cara penggunaan keris berbeda-beda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Sementara itu, di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan.

Selain keris, masih terdapat sejumlah senjata tikam lain di wilayah Nusantara, seperti rencong dari Aceh, badik dari Sulawesi serta kujang dari Jawa Barat. Keris dibedakan dari senjata tikam lain terutama dari bilahnya. Bilah keris tidak dibuat dari logam tunggal yang dicor tetapi merupakan campuran berbagai logam yang berlapis-lapis. Akibat teknik pembuatan ini, keris memiliki kekhasan berupa pamor pada bilahnya.

Beberapa istilah di bagian keris diambil dari tradisi Jawa, semata karena rujukan yang tersedia.

Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapan lainnya, yaitu warangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.

Pegangan keris atau hulu keris

Pegangan keris (bahasa Jawa: gaman) ini bermacam-macam motifnya, untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari , pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia.

Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu.

Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.

* Warangka atau sarung keris

Warangka, atau sarung keris (bahasa Banjar : kumpang), adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati, cendana, timoho, dan kemuning). Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading.

Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka, yaitu jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong, dan gandek.

Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkawinan, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).

Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana.

Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) .

Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian.

Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).

* Wilah

Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub, bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll.

Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.

Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam, wilut , dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.

Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija, atau keris tidak lazim.

Tangguh keris

Di bidang perkerisan dikenal pengelompokan yang disebut tangguh yang dapat berarti periode pembuatan atau gaya pembuatan. Hal ini serupa dengan misalnya dengan tari Jawa gaya Yogyakarta dan Surakarta. Pemahaman akan tangguh akan membantu mengenali ciri-ciri fisik suatu keris.

Beberapa tangguh yang biasa dikenal:
* tangguh Majapahit
* tangguh Pajajaran
* tangguh Mataram
* tangguh Yogyakarta
* tangguh Surakarta.

Sejarah

Asal keris yang kita kenal saat ini masih belum terjelaskan betul. Relief candi di Jawa lebih banyak menunjukkan ksatria-ksatria dengan senjata yang lebih banyak unsur India-nya.
[sunting] Keris Buddha dan pengaruh India-Tiongkok

Kerajaan-kerajaan awal Indonesia sangat terpengaruh oleh budaya Buddha dan Hindu. Candi di Jawa tengah adalah sumber utama mengenai budaya zaman tersebut. Yang mengejutkan adalah sedikitnya penggunaan keris atau sesuatu yang serupa dengannya. Relief di Borobudur tidak menunjukkan pisau belati yang mirip dengan keris.

Dari penemuan arkeologis banyak ahli yang setuju bahwa proto-keris berbentuk pisau lurus dengan bilah tebal dan lebar. Salah satu keris tipe ini adalah keris milik keluarga Knaud, didapat dari Sri Paku Alam V. Keris ini relief di permukaannya yang berisi epik Ramayana dan terdapat tahun Jawa 1264 (1342 Masehi), meski ada yang meragukan penanggalannya.

Pengaruh kebudayaan Tiongkok mungkin masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam) yang merupakan penghubung antara kebudayaan Tiongkok dan dunia Melayu. Terdapat keris sajen yang memiliki bentuk gagang manusia sama dengan belati Dongson.
[sunting] Keris “Modern”

Keris yang saat ini kita kenal adalah hasil proses evolusi yang panjang. Keris modern yang dikenal saat ini adalah belati penusuk yang unik. Keris memperoleh bentuknya pada masa Majapahit (abad ke-14) dan Kerajaan Mataram baru (abad ke-17-18).

Pemerhati dan kolektor keris lebih senang menggolongkannya sebagai “keris kuno” dan “keris baru” yang istilahnya disebut nem-neman ( muda usia atau baru ). Prinsip pengamatannya adalah “keris kuno” yang dibuat sebelum abad 19 masih menggunakan bahan bijih logam mentah yang diambil dari sumber alam-tambang-meteor ( karena belum ada pabrik peleburan bijih besi, perak, nikel dll), sehingga logam yang dipakai masih mengandung banyak jenis logam campuran lainnya, seperti bijih besinya mengandung titanium, cobalt, perak, timah putih, nikel, tembaga dll. Sedangkan keris baru ( setelah abad 19 ) biasanya hanya menggunakan bahan besi, baja dan nikel dari hasil peleburan biji besi, atau besi bekas ( per sparepart kendaraan, besi jembatan, besi rel kereta api dll ) yang rata-rata adalah olahan pabrik, sehingga kemurniannya terjamin atau sedikit sekali kemungkinannya mengandung logam jenis lainnya. Misalkan penelitian Haryono Arumbinang, Sudyartomo dan Budi Santosa ( sarjana nuklir BATAN Yogjakarta ) pada era 1990, menunjukkan bahwa sebilah keris dengan tangguh Tuban, dapur Tilam Upih dan pamor Beras Wutah ternyata mengandung besi (fe) , arsenikum (warangan )dan Titanium (Ti), menurut peneliti tersebut bahwa keris tersebut adalah “keris kuno” , karena unsur logam titanium ,baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi, banyak digunakan sebagai alat transportasi modern (pesawat terbang, pesawat luar angkasa) ataupun roket, jadi pada saat itu teknologi tersebut belum hadir di Indonesia. Titanium banyak diketemukan pada batu meteorit dan pasir besi biasanya berasal dari daerah Pantai Selatan dan juga Sulawesi. Dari 14 keris yang diteliti , rata-rata mengandung banyak logam campuran jenis lain seperti cromium, stanum, stibinium, perak, tembaga dan seng, sebanyak 13 keris tersebut mengandung titanium dan hanya satu keris yang mengandung nikel.

Keris baru dapat langsung diketahui kandungan jenis logamnya karena para Mpu ( pengrajin keris) membeli bahan bakunya di toko besi, seperti besi, nikel, kuningan dll. Mereka tidak menggunakan bahan dari bijih besi mentah ( misalkan diambil dari pertambangan ) atau batu meteorit , sehingga tidak perlu dianalisis dengan isotop radioaktif. Sehingga kalau ada keris yang dicurigai sebagai hasil rekayasa , atau keris baru yang berpenampilan keris kuno maka penelitian akan mudah mengungkapkannya.

Sumber : Disarikan dari hasil Sarasehan Pameran Seni Tosan Aji, Bentara Budaya Jakarta, Budiarto Danujaya, Jakarta, 1996

Keris Pusaka terkenal :
* Keris Mpu Gandring
* Keris Pusaka Setan Kober
* Keris Kyai Sengkelat
* Keris Pusaka Nagasasra Sabuk Inten
* Keris Kyai Carubuk
* Keris Kyai Condong Campur
* Keris Taming Sari

Legenda Keris Pusaka

2010 August 28
Posted by mbah12

1. Keris Empu Gandring> Keris ini tak jelas lurus atau berluk, karya Empu Gandring (13M). Empu Gandring dibunuh oleh Ken Arok, dikarenakan keris pesanannya belum jadi. Menjelang ajal, sang Empu mengutuk jika kelak keris buatannya tersebut akan membunuh sampai 7 turunan, mereka ialah: Empu Gandring, Akuwu Tunggul Ametung (suami Ken Dedes), Ken Arok, Pesuruh Anusapati (anak tiri Ken Arok), Anusapati, dan yang terakhir terbunuh adalah Tohjaya tahun 1428, terluka disaat ada pemberontakan di Istana. Dan keris karya Empu Gandring pada abad 13 itu, sekarang ditanam didalam candi Anusapati alias candi jago, di Tumpang kabupaten Malang – Jawa Timur.

2. Keris Jalak Sumelang Gandring> Prabu Brawijaya II mengutus Empu Supa Mandrangi untuk mencari keris Jalak Sumelang Gandring miliknya yang hilang. Empu Supa Mandrangi menyanggupinya, lalu pergi ke Blambangan dengan berganti nama Empu Pitrang. Karena kepandaiannya sebagai Empu pembuat keris, Sang Adipati Blambangan memesan keris kepada Empu Pitrang sambil membawa contohnya. Ternyata, keris tersebut adalah Jalak Sumelang Gandring milik sang Prabu Brawijaya. Maka Empu Pitrang membuat 2 bilah keris duplikatnya. Setelah selesai, keris pesanan Adipati Ciung Lautan diserahkannya, sedangkan aslinya disembunyikannya. Senang, hati sang Adipati menerima hasil karya Empu Pitrang, sebagai hadiahnya, Adipati Blambangan tersebut menikahkan putrinya dengan Empu Pitrang. Sebenarnya sudah seringkali sang putri Adipati dinikahkan, namun, kesemua suaminya mati secara misterius. Mengetahui adanya peristiwa aneh tersebut, maka dengan segala kesaktiannya Empu Pitrang menyelidiki penyebabnya, akhirnya Empu Pitrang tahu jika dikemaluan sang putri bersembunyi ular “welang”. Maka tidak heran jika setiap menyenggamainya selalu mati digigit ular welang. Kemudian Empu Pitrang mengeluarkan ular welang tersebut dan menanamnya dibawah pohon “kara”, sebangsa sayuran buncis. Akan tetapi malam harinya ular tersebut sudah tidak ada dan berubah menjadi sebilah keris pusaka berluk 3, yang oleh Empu Pitrang diberi nama keris “karawelang”. Sewaktu sang putri hamil, Empu Pitrang pamit pergi ke Kerajaan Majapahit sambil menitipkan pesan, jika kelak anaknya lahir agar diberi nama Jaka Sura. Sesampainya Di Kerajaan Majapahit, Empu Pitrang alias Empu Mandrangi menyerahkan keris pusaka jalak sumelang gandring kepada Prabu Brawijaya, yang telah ditemukannya kembali. Sangat gembira hati Sang Prabu, yang kemudian menganugerahi gelar ” Pangeran Sedayu”. Ditempat yang lain setelah selang beberapa waktu lamanya, Jaka Sura lahir. Dan diketika beranjak dewasa, Jaka Sura pergi mencari ayahnya Empu Pitrang ke Majapahit. Disepanjang perjalanannya, Jaka Sura membuat keris-keris yang aneh, hanya dipijit-pijit dengan tangan tanpa ditempa, serta ujungnya dilubangi untuk mengkaitkannya dengan tali. Kemudian setiap berjumpa dengan seseorang keris tersebut diberikannya. Akhirnya Jaka Sura berhasil bertemu dengan ayahnya Pangeran Sedayu alias Empu Supa Mandrangi alias Empu Pitrang. Lalu keduanya sama-sama mengabdi di Keraton Majapahit. Berikut ciri khas pusaka buatan Jaka Sura: 1. keris-keris pijitan dan pesinya berlubang. 2. Pedang ampuh, mampu mematahkan pintu. Oleh Prabu Brawijaya diberi nama ” Pedang Sang Lawang “.

3. Keris condong campur VS keris sengkelat> Suatu ketika kerajaan Majapahit tertimpa pageblug dan Empu Supa Mandrangi mendapat perintah Prabu Brawijaya untuk mengatasinya. Dari hasil bersemedi, Empu Supa mengetahui jika pusaka keraton Majapahit yang bernama Condong Campur selalu menganga menginginkan darah manusia. Lalu dengan bahan besi pilihan Empu Supa membuat keris berluk 11 Naga Sasra Sabuk Inten dan keris berluk 13 Sengkelat. Setelah jadi, keduanya ditempatkan satu peti dengan Condong Campur, disitulah Sengkelat berkelahi melawan Condong Campur. Ujung keris condong campur patah, musnah keangkasa raya, sambil mengancam rakyat akan balas dendam jika terlihat Bintang Kemukus disebelah barat. Itulah sebabnya orang Jawa percaya jika ada bintang kemukus dilangit pada malam hari merupakan pertanda adanya wabah penyakit yang menjangkiti rakyat, oleh karenanya untuk menolaknya orangpun membuat sesaji.

4.Tombak baru klinthing> Pada masa Kerajaan Pajang, bertapalah seekor ular Naga melingkari puncak gunung merapi. Ki Ageng Pemanahan menerima bisikan ghaib bahwa, bila ular naga itu berhasil melingkarkan dirinya dipuncak merapi, jayalah Kerajaan Pajang dan Suta Wijaya anak Ki Ageng Pemanahan tak bisa menjadi Raja. Ular naga tadi nyaris sampai melingkarkan kepala dan ekornya dan Ki Ageng Pemanahan minta bantuan kepada Ki Ageng Wanabaya di Mangir yang terkenal sakti. Jika berhasil, Ki Ageng Mangir akan diberi separo negeri Pajang. Akhirnya Ki Ageng Mangir mampu mencegah usaha ular naga dengan memotong lidahnya disaat ular naga menjulurkan kepala dengan lidahnya. Lidah Naga tersebut menghilang dan berubah wujud menjadi pusaka sebilah tombak. Ki Ageng Wanabaya Mangir mengambilnya dan diberi nama Tombak Baru Klinthing. Pada gilirannya, Ki Ageng Pemanahan berhasil merebut Pajang dan Sutawijaya mendirikan Kerajaan Mataram bergelar “Panembahan Senapati. Tapi, janjinya diingkari, lalu Ki Ageng Wanabaya menjadi pembangkang. Pihak Mataram berupaya menaklukkan Ki Ageng Wanabaya. Dikorbankanlah Sang Putri mahkota Pembayun. Dia dan abdinya menyamar sebagai ledek disekitar daerah Mangir. Terpesonalah Ki Ageng Mangir dengan rombongan kecil ledek pembayun, yang akhirnya diangkat menjadi istri. Pada suatu kesempatan pembayun melaksanakan tugasnya, mengusap tombak pusaka sakti baru klinthing dengan sampur sonder ikat pinggang ledek. Disaat tombak pusaka sudah berkurang kesaktiannya, yang bertepatan pula dengan kehamilan sang putri Pembayun, maka mengakulah bahwa sebenarnya Pembayun adalah putri mahkota anak panembahan senopati. Walaupun dengan berat hati, Ki Ageng Wanabaya melaksanakan permintaan agar sungkem ke mertuanya. Disaat sungkem, Kepalanya ditatapkan kebatu gilang oleh Panembahan Senapati. Seketika itu pula Ki Ageng Wanabaya menemui ajalnya. Jenazahnya yang separo dikebumikan dipemakaman keluarga Raja-raja Mataram, separohnya lagi diluar batas makam kerajaan, suatu simbol separuh musuh separuh anak menantu. Kini pusaka tombak baru klinthing tersimpan di Keraton Mataram Yogyakarta.